Home » , » Akrual vs Realisasi

Akrual vs Realisasi


Sesuai dengan Kerangka Dasar Penyusunan dan Pengajian Laporan Keuangan (KDPPLK), penyusunan laporan keuangan dilakukan berdasarkan asas akrual, yaitu pengaruh transaksi dan peristiwa lain diakui pada saat kejadian (dan bukan pada saat kas atau setara kas diterima atau dibayar) dan dicatat dalam catatan akuntansi serta dilaporkan dalam laporan keuangan pada periode yang bersangkutan. 

Sementara itu, untuk beberapa kasus tertentu seperti penyisihan atau provisi, ketentuan perpajakan mengatur sebagai berikut: 
  • Piutang yang nyata-nyata tidak dapat ditagih boleh dikurangkan dari penghasilan bruto (deductible expense) dengan syarat: 
  1. Telah dibebankan sebagai biaya dalam laporan laba rugi komersial; 
  2. Telah diserahkan perkara penagihannya kepada Pengadilan Negeri atau Badan Urusan Piutang dan Lelang Negara (BUPLN) atau adanya perjanjian tertulis mengenai penghapusan piutang/pembebasan utang antara kreditur dan debitur yang bersangkutan; 
  3. Telah dipublikasikan dalam penerbitan umum atau khusus; dan 
  4. Wajib Pajak harus menyerahkan daftar piutang yang tidak dapat ditagih kepada Direktoran Jenderal Pajak, yang pelaksanaannya diatur lebih lanjut dengan Keputusan Dirjen Pajak. 
  • Pembentukan atau pemupukan dan cadangan tidak boleh dikurangkan dari penghasilan bruto (non deductible expense) kecuali: 

  1. Cadangan piutang tak tertagih untuk usaha bank 
  2. Cadangan piutang tak tertagih untuk sewa guna usaha dengan hak opsi, 
  3. Cadangan premi untuk usaha asuransi, dan 
  4. Cadangan biaya reklamasi untuk usaha pertambangan, yang ketentuan dan syarat-syaratnya ditetapkan dengan Keputusan Menteri Keuangan; 
Berdasarkan uraian di atas, ketentuan perpajakan secara umum hanya mengakui metode langsung (direct method), kecuali butir b diatas terpenuhi, sedangkan Standar Akuntansi Keuangan (SAK) mengakui metode tidak langsung (indirect method).

0 komentar:

Posting Komentar

Informasi Jadwal Training

pelatihan pajak