Home » » Pengembalian Pajak

Pengembalian Pajak

RESTITUSI (PENGEMBALIAN PAJAK)

Restitusi adalah suatu jumlah pajak yang dibayarkan terlalu besar dan akan dimintakan kembali oleh wajib pajak. Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa restitusi merupakan suatu mekanisme pengembalian pajak yang terlalu banyak disetorkan oelh wajib pajak dalam satu tahun pajak dan menyangkut satu jenis pajak saja. Untuk setiap kelebihan pembayaran pajak, sebenarnya tersedia mekanisme lain yaitu kompensasi. 

Dengan kompensasi, pajak yang dianggap lebih dibayar untuk suatu periode berikutnya. Kompensasi tidak dapat dilakukan untuk jenis pajak yang berbeda. Misalnya, bila wajib pajak dalam SPT-nya mengklaim memiliki kelebihan pembayaran Pajak Pertambahan Nilai (PPN). Maka bila ia memiliki hutang pajak Penghasilan Pasal 21, ia tidak dapat melakukan kompensasi lewat keterangan di SPT-nya.

Kompensasi antar jenis pajak hanya dapat dilakukan ketika sudah diterbitkan Surat Ketetapan Pajak (SKP). Dalam memenuhi kewajiban pembayaran bila SKP Lebih Bayar, dapat dilakukan proses kompensasi antar jenis pajak tadi.

Secara singkat, proses restitusi ditempuh ketika wajib pajak tidak ingin melakukan kompensasi atas pajak yang lebih dibayarnya tadi ke periode berikutnya. Untuk itu, ia mengajukan permohonan untuk pengembalian dalam bentuk tunai atas kelebihan pembayaran yang diklaimnya tadi. Contoh: Wajib pajak mempunyai kelebihan pembayaran pada akhir bulan Desember 2002 untuk jenis pajak penghasilan Pasal 25. Kelebihan pajak yang dibayarkan ini dapat diperlakukan:
  • Dikompensasikan dengan pembayaran PPh Ps. 25 bulan Januari 2003 atau
  • Diminta kembali atau restitusi.
Dengan demikian, ketika wajib pajak memutuskan untuk meminta kelebihan pembayarannya, ia secara jelas mencantumkan tanda tersebut pada Surat Pemberitahuan (SPT) bahwa untuk kelebihan pembayaran tadi dimintakan restitusi.

Kelebihan pembayaran pajak ini dapat terjadi pada pajak penghasilan dan juga pada pajak pertambahan nilai. Berikut contoh bagaimana kelebihan pajak tadi bisa terjadi.
Pajak penghasilan yang dipotong oleh orang lain lebih besar dari besarnya pajak yang terhutang.
Kondisi ini terjadi ketika Lembaga Nirlaba memiliki pendapatan atau penghasilan dari jasa sewa, jasa teknik atau jasa konsultan yang mana klien atau langganan akan memotong dari pembayaran ke lembaga yang dibayar di muka. Dengan demikian, pada akhir tahun pajak dilakukan perhitungan ulang berupa:
  • Total penghasilan.
  • Total biaya.
  • Keuntungan.
  • Pajak penghasilan yang terhutang atas keuntungan di atas.Pajak penghasilan yang sudah dipotong/dibayar di muka.Pajak penghasilan yang masih harus dibayar bila d > e.
  • Pajak penghasilan yang dapat dikompensasikan atau direstitusi bila d < e.

Pajak penghasilan yang dimaksudkan di sini adalah pajak penghasilan pasal 23 yang merupakan pajak penghasilan pasal 25 yang dibayar di muka.

0 komentar:

Posting Komentar

Informasi Jadwal Training

pelatihan pajak