Home » , » Pajak dalam perspektif islam

Pajak dalam perspektif islam


Istilah Pajak Hanya Tepat untuk Dharibah - Dalam kitab Al-Ahkam al-Sulthaniyah karya Imam Al-Mawardi, kharaj diterjemahkan dengan kata pajak (pajak tanah), sedangkan jizyah tidak diterjemahkan dengan pajak, melainkan tetap disebut jizyah. Namun dalam kitab Shahih Abu Daud, seorang pemungut jizyah diterjemahkan dengan seorang pemungut pajak, padahal yang dimaksud adalah petugas jizyah. Dalam kitab Al-Umum karya Imam Syafi’i, jizyah diterjemahkan dengan Pajak. 

Dari berbagai penerjemahan ini tampaknya pengertian jizyah, kharaj, dan lain-lain disatukan ke dalam istilah pajak. Padahal seharusnya tidak sama, masing-masing berbeda subjek atau objeknya. 

Istilah pajak (dharibah) juga tidak bisa untuk menyebut ‘ushr (bea cukai), yakni pungutan yang dipungut dalam besaran tertentu dari importir atau eksportir yang bukan warga negara khilafah, baik Muslim maupun zimmi, dan bukan mu’ahad. Sebab ‘ushr hanyalah tindakan balasan atas tindakan negara mereka. Oleh karena itu, besarnya ‘ushr sama dengan besaran yang dipungut oleh negara mereka dari warga negara khilafah ketika mengimpor komoditas dari negara tersebut atau mengekspor komoditas ke negara tersebut. 

Ada sebuah hadis yang berbunyi, “tidak masuk surga petugas pajak.” Para ulama menafsirkan bahwa yang dimaksud dengan petugas pajak ini adalah “Orang yang mengambil ‘ushr dari harta kaum Muslim secara paksa yang melampaui batas, sehingga dikhawatirkan dosa dan sanksi baginya. Petugas pemungutan ‘ushr dalam hadis ini juga diterjemahkan sebagai petugas pajak, padahal maksudnya adalah petugas pemungut ‘ushr.

Dalam Sistem Ekonomi Konvensional Dalam Sistem Ekonomi Konvensional (non-Islam), kita juga mengenal adanya istilah pajak (tax), seperti dalam pengertian pajak yang dikemukakan oleh Prof. Rahmat Soemitro atau Prof. Adriani di atas. Pajak (tax) di sini maknanya adalah sebuah pungutan wajib; berupa uang yang harus dibayar oleh penduduk sebagai sumbangan wajib kepada negara atau pemerintah sehubungan dengan pendapatan, pemilikan, harga beli barang, dan lain-lain. Jadi, pajak (tax) adalah harta yang dipungut dari rakyat untuk keperluan pengaturan negara. 

Pengertian ini adalah realitas dari dharibah sebagai harta yang dipungut secara wajib dari rakyat untuk keperluan pembiayaan negara. Dengan demikian, dharibah bisa kita artikan dengan pajak (Muslim). Istilah dharibah dalam arti pajak (tax) secara Syar’i dapat kita pakai sekalipun istilah ‘pajak’ (tax) itu berasal dari Barat, karena realitasnya ada dalam sistem ekonomi Islam.

Untuk menghindari kerancuan makna antara pajak menurut Syariah dengan pajak (tax) non-Islam, maka dipilihlah padanan kata dalam bahasa Arab yaitu dharibah. Dharibah adalah pajak tambahan dalam Islam yang sifat dan karakteristiknya berbeda dengan pajak (tax) menurut teori ekonomi non-Islam. Bagaimana dengan kharaj dan jizyah? Oleh Karena objek dari kharaj adalah tanah, maka jika dipakai istilah pajak untuk kharaj dalam sistem ekonomi Islam akan rancu dengan istilah pajak atas penghasilan atau pendapatan. Untuk itu, biarkanlah pajak atas tanah disebut kharaj saja. Demikian pula dengan jizyah, objeknya adalah jiwa, tidak sama dengan dharibah. Oleh sebab itu, biarkanlah disebut jizyah saja. Ringkasannya adalah sebagai berikut: 

Nama/sebutan:
  • Pajak (Dharibah) 
  • Jizyah
  • Kharaj
objek
  • harta Selain Zakat 
  • Jiwa (An Nafs)
  • Tanah Taklukkan
subjek
  • Kaum Muslim
  • Non Muslim 
  • Non Muslim

0 komentar:

Posting Komentar

Informasi Jadwal Training

pelatihan pajak